Mulai kemarin, 15 Maret 2011, saya mencoba pola makan ”food combining” atau sering disingkat dengan FC.
Kemungkinan besar sudah banyak yang mengetahui tentang FC ya? FC di Indonesia digagas oleh Ibu Andang Gunawan, yang menulis buku dengan judul yang sama sekitar tahun 2000-an lalu.
Inti dari FC adalah pola makan yang sesuai dengan karakteristik bahan makanan dan cara pencernaannya, sehingga mengoptimalkan fungsi-fungsi pencernaan, memaksimalkan penyerapan nutrisi, meminimalkan racun dalam tubuh, yang pada akhirnya meningkatkan kesehatan dan daya tahan tubuh.
Beberapa point penting dari FC adalah sebagai berikut
Yang pertama, tentang buah.
Buah sangat cepat dicerna, hanya sekitar (10 - 45 menit). Untuk itu, buah sebaiknya dimakan sebelum memakan makanan lain. Lebih jauh lagi, karena pada pagi hari sistem pencernaan sedang berfokus pada proses pengeluaran, maka makanan paling tepat adalah buah, karena pengolahan makanan menjadi ringan.
Kedua, tentang kombinasi karbohidrat, protein, dan sayuran.
Karbohidrat membutuhkan suasana basa dalam pencernaannya. Sedangkan protein membutuhkan suasana asam (duh mudah-mudahan nggak kebalik yaa.. intinya bertentangan hehe..). Sehingga, protein sebaiknya tidak dimakan berbarengan dengan karbohidrat.
Sedangkan sayur, dapat dikombinasikan baik dengan karbohidrat maupun dengan protein.
Selain itu protein membutuhkan waktu pencernaan paling lama (4 jam), bahkan lebih lama lagi jika berlemak (6 jam), dibandingkan dengan sayuran (2 jam) dan karbohidrat (3 jam).
Di samping itu siang hari (pukul 12.00 – 20.00) adalah periode bagi tubuh untuk melakukan pengolahan makanan. Sehingga yang paling tepat dimakan di siang hari adalah kombinasi protein dan sayuran.
Yang perlu dicatat, protein yang dimaksud di sini tidak termasuk tahu dan tempe. Tahu dan tempe setelah melalui proses fermentasi dapat dicerna lebih cepat, sehingga dapat dimakan bersama karbohidrat.
Sementara demikian beberapa point penting FC. Masih banyak hal yang lain, silakan ditelusuri di link berikut, atau baca langsung buku Ibu Andang.
http://theeazayoe.blogspot.com/2007/06/food-combining-jurus-baru-utk-langsing.html
http://batufresh.com/cuka-apel-whats/food-combining/
Nah, dari point-point tersebut, maka, menu 1 hari adalah sebagai berikut :
Pagi : Buah
Siang : Protein dan Sayuran
Malam : Karbohidrat dan Sayuran (bisa ditambah dengan tahu tempe)
Oya, kalau karbohidrat dalam jumlah kecil, seperti tepung pelapis, masih OK untuk dimakan bersama dengan protein.
Buah, bisa dimakan kapan saja sebagai camilan.
Bagaimanaaaa, berani mencobaaa? Coba deh, tadinya saya khawatir akan kelaparan atau pusing :-)
Ternyata nggak juga kok. Malah saya terbebas dari masuk angin, padahal selama ini saya hobi masuk angin :-)
Hanya, dengan masuknya saya menjadi anggota FC ini, maka ada beberapa makanan kesukaan yang harus saya tinggalkan, hiks hiks.. Yaitu makanan yang merupakan campuran tinggi karbohidrat – protein, seperti risol (tepung pembungkus dan isi ayam), makaroni skotel (makaroni – telur – ayam), burger (roti – daging), serta pizza (roti – daging).
Tapiii, sebenarnya masih bisa disiasati sih. Misalnya kita buat risol atau lumpia sayur, atau makaroni skotel sayur, burger tempe, dan pizza sayur. Sip kaaan?
Dan yang terpenting, kita makan sebenarnya kan bukan untuk cita rasa dan sekedar enak-enak lho. Kita makan untuk kebutuhan tubuh kita, dan tubuh kita hanya butuh makanan yang sehat.
Sip ya? Selamat mencobaaa :-)
Wednesday, March 16, 2011
Friday, February 18, 2011
Mari Beralih ke Susu Kambing
Beberapa penelitian menyebutkan bahwa susu sapi ternyata kurang baik bagi kesehatan.
Dalam bukunya, "Miracle of Enzyme" dan "Mukjizat Mikroba", dr. Hiromi Shinya, seorang dokter bedah usus berkebangsaan Jepang yang tinggal di Amerika Serikat menyebutkan bahwa susu sapi sangat sulit dicerna, sehingga menguras persediaan enzim yang juga berguna untuk daya tahan tubuh.
Dan bertentangan dengan yang selama ini diyakini masyarakat, susu sapi justru meningkatkan resiko osteoporosis. Detil penjelasannya silakan dibaca di buku tersebut ya :-)
Ross Taylor, seorang penderita kanker yang berhasil bertahan, dalam bukunya "Living Simply with Cancer" juga berpendapat yang sama.
Menurut Ross Taylor, di negara dengan konsumsi susu tinggi seperti Amerika Serikat, Finlandia, Swedia, kasus osteoporosis justru tinggi. Dan di negara dengan konsumsi susu rendah, justru kasus osteoporosis juga rendah.
Lalu apakah kita tidak perlu minum susu?
Ada satu hal yang mengganjal bagi saya, yaitu bahwa Al Qur'an dan Hadits yang menggambarkan manfaat dari minum susu.
Bagi saya Al Quran dan Hadits adalah "manual book" kehidupan, yang pasti benar.
Lalu bagaimana penjelasan pertentangan ini?
Ternyata jawabannya ada di susu kambing!
Pada zaman Rasulullah, susu yang umum diminum masyarakat adalah susu kambing, bukan susu sapi.
Sayangnya dr. Hiromi tidak menjelaskan tentang susu kambing. Tapi, ada penjelasan dari Ross Taylor.
Berbeda dengan susu sapi yang ber-pH rendah sehingga bersifat asam bagi tubuh, susu kambing ber-pH tinggi sehingga bersifat basa.
Tentang pentingnya sifat basa bagi tubuh kita dapat dilihat pada tulisan ini.
Jika kita lihat kandungannya, memang terdapat perbedaan antara kandungan susu kambing dan susu sapi.
Dengan kandungan tersebut, susu kambing ternyata lebih mirip dengan ASI, sehingga dapat digunakan sebagai susu pengganti bagi anak yang alergi susu sapi.
Wah, ternyata oke juga ya susu kambing? Yuk kita pindah ke susu kambing!
Dalam bukunya, "Miracle of Enzyme" dan "Mukjizat Mikroba", dr. Hiromi Shinya, seorang dokter bedah usus berkebangsaan Jepang yang tinggal di Amerika Serikat menyebutkan bahwa susu sapi sangat sulit dicerna, sehingga menguras persediaan enzim yang juga berguna untuk daya tahan tubuh.
Dan bertentangan dengan yang selama ini diyakini masyarakat, susu sapi justru meningkatkan resiko osteoporosis. Detil penjelasannya silakan dibaca di buku tersebut ya :-)
Ross Taylor, seorang penderita kanker yang berhasil bertahan, dalam bukunya "Living Simply with Cancer" juga berpendapat yang sama.
Menurut Ross Taylor, di negara dengan konsumsi susu tinggi seperti Amerika Serikat, Finlandia, Swedia, kasus osteoporosis justru tinggi. Dan di negara dengan konsumsi susu rendah, justru kasus osteoporosis juga rendah.
Lalu apakah kita tidak perlu minum susu?
Ada satu hal yang mengganjal bagi saya, yaitu bahwa Al Qur'an dan Hadits yang menggambarkan manfaat dari minum susu.
Bagi saya Al Quran dan Hadits adalah "manual book" kehidupan, yang pasti benar.
Lalu bagaimana penjelasan pertentangan ini?
Ternyata jawabannya ada di susu kambing!
Pada zaman Rasulullah, susu yang umum diminum masyarakat adalah susu kambing, bukan susu sapi.
Sayangnya dr. Hiromi tidak menjelaskan tentang susu kambing. Tapi, ada penjelasan dari Ross Taylor.
Berbeda dengan susu sapi yang ber-pH rendah sehingga bersifat asam bagi tubuh, susu kambing ber-pH tinggi sehingga bersifat basa.
Tentang pentingnya sifat basa bagi tubuh kita dapat dilihat pada tulisan ini.
Jika kita lihat kandungannya, memang terdapat perbedaan antara kandungan susu kambing dan susu sapi.
Dengan kandungan tersebut, susu kambing ternyata lebih mirip dengan ASI, sehingga dapat digunakan sebagai susu pengganti bagi anak yang alergi susu sapi.
Wah, ternyata oke juga ya susu kambing? Yuk kita pindah ke susu kambing!
Labels:
alergi,
ASI,
daya tahan tubuh,
hidup sehat alami,
keasaman tubuh,
pola makan,
susu kambing
Subscribe to:
Posts (Atom)