Showing posts with label ASI. Show all posts
Showing posts with label ASI. Show all posts

Tuesday, October 2, 2012

Makanan Sumber Kalsium Tinggi

Kadang-kadang anak kita tidak mau minum susu, atau ada juga yang berpendapat bahwa susu tidak terlalu dibutuhkan tubuh. Lalu, dari mana sumber pengganti kalsium?

Berikut sharing dari Mom Vanessa di milis asiforbaby tercinta : 

==

Ini bahan pangan tinggi kalsium dr www.cdc.gov  (Food Amount of Calcium in milligrams (mg) :

1 cup of milk 300
6 oz of yogurt 350
1 oz hard cheese (cheddar) 240
2 slices processed cheese 265 1/4 cup cottage cheese 120
1/2 cup soft serve frozen yogurt 100
1/2 cup ice cream 85
1/2 cup tofu 258
1/2 cup pinto beans or chick peas 40
1/4 cup almonds 95
1 Tbsp almond butter 43
1 Tbsp sesame seeds 90
1/4 cup Brazil nuts or hazelnuts 55 8 medium sardines (canned) 370 3 oz salmon 180
1/2 cup oysters (canned) 60
1/2 cup shrimp (canned) 40
1/2 cup bok choy 75
1 cup broccoli 178
1 cup celery 54
1 cup cooked green beans 58
1 cup cooked butternut squash 84 1 cup cooked sweet potato 70
1 medium naval orange 56
2/3 cup raisins 53
1 cup calcium-fortified orange juice 300
1 cup enriched soy milk 300
1 cup enriched rice milk 300

Tambahan :
Tempe kaya kalsium + zat besi

==

Monday, July 16, 2012

MPASI : Bubur Tepung Beras atau Bubur Nasi Dihaluskan?

Ini sharing dari milis Gizi_Bayi_Balita@yahoogroups.com, dari Pak Wied Harry, ahli gizi.

Salah satu tahapan MPASI (Makanan Pendamping ASI)  adalah bubur halus. Sekarang cukup banyak dijual aneka tepung beras untuk MPASI, sehingga membuat bubur halus menjadi lebih mudah.

Pertanyaannya, lebih baik mana, bubur dari tepung beras (tepung beras dibuat menjadi bubur) atau bubur halus dari beras (beras dimasak sampai menjadi nasi/bubur lalu dihaluskan)? Walaupun bentuk akhirnya sama-sama bubur halus, ternyata perbedaan proses pembuatannya menghasilkan perbedaan pula di tubuh bayi.

Apa lagi selain tepung beras, ada juga tepung pisang, tepung ubi. Wah kalau ini, jelas lebih baik pisang dan ubi asli aja, gampang dihaluskan, dan lebih fresh :-) Prinsipnya, semakin segar, semakin dekat dengan "aslinya", semakin baik.. Semakin banyak enzim.. Ingat kata Hiromi.. Setuju kaaaan :-)


Berikut saya copy paste penjelasan dari Pak Wied, semoga bermanfaat :-)

===




Pertanyaan member milis : 

emang beda ya klo dari beras utuh dibuat bubur dengan digiling dulu baru dibuat
bubur?
apa yg menyebabkan beda ya pak wied?




Jawaban Pak Wied :

Beda.
Ukuran molekul bahan makanan ketika dimasak mempengaruhi kemudahan bahan makanan tersebut diserap oleh tubuh kita.

Bubur halus dari beras (beras dimasak hingga menjadi bubur, kemudian dihaluskan) lebih lambat menaikkan kadar gula darah dibanding bubur terbuat dari tepung.

Jika setiap kali makan, tubuh bayi kita mengalami lonjakan kadar gula darah, maka pankreas harus terus aktif merespon dengan cara memproduksi insulin, agar kadar gula darah yang naik bisa segera dinormalkan.

Jika pankreas terus-menerus bekerja keras, maka pankreas akan cepat aus. Kalau pankreas sudah aus, maka kemampuannya menghasilkan insulin akan menurun, sehingga gula darah berlebihan akan tetap saja berlebihan - dan ini menjadi pertanda pradiabetes atau malah sudah diabetes. Saat ini, kasus anak-anak (bahkan sekarang sudah banyak yang usia pra-TK) pengidap diabetes tipe-2 (diabetes karena pola makan) sudah semakin banyak.

Saya sering disanggah dengan pernyataan "kan akhirnya sama-sama dihaluskan juga, kok bisa salah satu lebih cepat menaikkan kadar gula darah?"

Rupanya yang menyanggah pernyataan saya lupa (pernyataan ini saya kutip dari hasil penelitian, tapi saya lupa sumbernya) bahwa merebus makanan dengan potongan kecil-kecil akan lebih mudah melunakkan jaringan makanan tersebut dibanding dengan makanan yang direbus utuh atau dalam potongan besar.

Bukankah ini menandakan bahwa (cairan) panas ketika perebusan lebih mudah menembus molekul
makanan jika makanan tersebut berukuran kecil, apalagi yang dihaluskan, daripada yang utuh/berukuran besar?

===

Thursday, February 9, 2012

Menyapih ala Islam

Copy paste dari milis asiforbaby, semoga bermanfaat :-)

*Muqaddimah*

Sesungguhnya segala puji hanyalah milik Allah, kita memujiNya dan memohon
ampunanNya, dan kita berlindung dari kejahatan diri kita sendiri dan
keburukan amal kita. Barangsiapa yang Allah beri petunjuk padanya maka tidak
ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang sesat maka tidak ada
yang dapat memberi petunjuk kepadanya (selain Allah). Aku bersaksi bahwa
tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah Yang tidak ada
sekutu bagiNya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad (adalah) hambaNya dan
RasulNya -shallallahu ‘alaihi wa sallam-.

Ama ba’du

Banyak orang yang mengira setelah anak mencapai usia tepat dua tahun, maka
ia wajib disapih. Bagaimana pun caranya akan dilakukan ibu agar anaknya
berhenti menyusu pada usia itu, mulai dari mengolesi puting dengan sesuatu
yang tidak disukai anak seperti jamu, saos, lipstik, bahkan sampai
membiarkannya menangis berjam-jam. Hal ini tidak lepas dari keinginan para
ibu (dalam hal ini yang muslimah) untuk menjalankan perintah Allah yang
disebutkan dalam Al Qurán agar ibu menyusui anaknya dengan sempurna yaitu
selama dua tahun. Maka mereka mengira wajib bagi setiap ibu untuk
menghentikan menyusui anaknya yang telah mencapai dua tahun seketika itu
juga, bagaimanapun caranya. Benarkah demikian? Apa yang dimaksud para ulama
bahwa tidak ada penyusuan setelah dua tahun? Mari kita simak dalil-dalil
dalam Al Qurán dan As-Sunnah seputar penyusuan yang sempurna dan penyapihan.


*Islam Mengajarkan untuk Menyayangi Anak-anak *

Tidak diragukan lagi bahwa Islam sangat memperhatikan anak-anak. Itu
ditunjukkan dari perilaku Nabi Muhammad -shallallahuálayhi wa sallam- yang
sangat sayang kepada anak-anak. Beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam-
pernah memperpendek sholatnya karena mendengar anak yang menangis. Beliau
bersabda, *"Aku melakukan sholat dan aku ingin memperpanjang bacaannya,
akan tetapi tiba-tiba aku mendengar suara tangis bayi sehingga aku
memperpendek sholatku karena aku tahu betapa gelisah ibunya karena tangis
bayi itu."* [HR Bukhari dan Muslim]

Dan pernah Nabi -shallallahuálayhi wa sallam- ketika berkhutbah melihat
kedua cucu beliau Hasan dan Husain –radhiyallahu 'anhuma- menghampiri
beliau, maka beliau turun dari mimbar dan menggendong keduanya ke atas
mimbar, beliau pun bersabda, *"Sesungguhnya aku melihat kedua anak ini
berjalan dan jatuh, aku tidak sabar hingga turun mengambil keduanya."* [HR.
Abu Dawud]

Lihatlah bagaimana anak-anak dapat mempengaruhi pelaksanaan perkara sebesar
sholat dan khutbah. Dan masih banyak lagi kisah tentang bagaimana Nabi
-shallallahu ‘alaihi wa sallam- memperlakukan anak-anak dengan penuh kasih
sayang. Sesungguhnya telah ada pada beliau suri teladan yang baik. [QS
al-Ahzab: 21]. Maka demikian pulalah Islam mengajarkan umatnya melalui Nabi
Allah Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam- tersebut agar menyayangi
anak-anak, bahkan dari sebelum anak itu lahir sampai setelah dilahirkan.

*Pemberian ASI selama Dua Tahun dalam Islam*

Salah satu bentuk kasih sayang yang diajarkan Islam adalah penyusuan atau
pemberian ASI (air susu ibu) kepada anak yang baru lahir hingga dua tahun.
Allah berfirman: *“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua
tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban
ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma'ruf. Seseorang
tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu
menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan
warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua
tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa
atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka
tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut.
Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa
yang kamu kerjakan.”* [QS Al Baqarah: 233]

Ayat di atas menjelaskan tentang anjuran kepada para ibu untuk menyusui
anak-anak mereka hingga dua tahun, dan dibolehkan bagi mereka untuk
mencarikan ibu susu bila mereka mau. Ini menunjukkan betapa perihal
pemberian ASI ini bukanlah hal yang sepele, sampai-sampai anjurannya
tercantum dalam Kitab Suci umat Islam. Dan rahasia mengapa Allah menyebutkan
"dua tahun" sebagai masa menyusui yang sempurna maka hanya Allah saja lah
yang tahu. Namun manusia kini mengetahui tentang manfaat yang luar biasa
dari pemberian ASI selama dua tahun. Hal itu diperkuat dengan anjuran dari
WHO kepada para ibu di seluruh dunia, tidak hanya yang muslimah, untuk
menyusui anak-anak mereka yang disebutkan selama dua tahun pula.

Dan Nabi -shallallahuálayhi wa sallam- sebagai pembawa risalah ini, tidak
pernah melakukan hal yang bertentangan dengan apa yang telah beliau bawakan.

Dalam sebuah hadits shahih yang panjang yang diriwayatkan oleh Al Imam
Muslim, disebutkan ada seorang perempuan yang telah berbuat zina. Lalu
datanglah ia kepada Rasulullah –shallallau’alaihi wa sallam- untuk bertobat.
Namun Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- menolak pengakuan perempuan
tersebut. Keesokannya perempuan itu datang lagi dan berkata bahwa ia telah
hamil akibat perbuatan zina tersebut. Lalu Nabi –shallallahu ‘alaihi wa
sallam- menyuruhnya pulang sampai melahirkan. Setelah melahirkan, perempuan
itu datang lagi sambil membawa bayi laki-lakinya yang dibungkus dengan
secarik kain. Dia mengatakan bahwa bayi itu adalah bayi yang telah dia
lahirkan. Lalu Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, *“Pulanglah
kamu dulu dan susuilah dia sampai kamu menyapihnya.”* Setelah tiba masa
menyapih, perempuan itu datang lagi membawa bayinya dan di tangan bayi itu
ada sepotong roti. Dia mengatakan bahwa ia telah menyapih anaknya dan dia
sudah bisa memakan makanan. Akhirnya Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-
menyerahkan bayi tersebut kepada salah seorang sahabat, kemudian beliau
mengeluarkan perintah supaya dilaksanakan hukuman terhadap perempuan
tersebut. Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- kemudian memerintahkan agar
jenazah perempuan tersebut diurus, dan beliau pun menyolatinya dan
menguburkannya.

Lihatlah betapa pedulinya Islam terhadap pemeliharaan seorang bayi yang
masih dalam kandungan sampai dia dilahirkan untuk kemudian disusui sampai
disapih. Sungguh hanya orang-orang bodoh yang berpendapat bahwa Islam telah
berbuat kezhaliman melaksanakan hukuman tersebut kepada sang ibu. Padahal
justru sebaliknya, Allah menyayangi hambaNya yang bertaubat, dan Dia tidak
menginginkan hambaNya hidup lebih lama karena dia bisa saja melakukan dosa
lagi. Ketahuilah bahwa perempuan itu diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.
Dan beruntunglah sang anak karena telah lahir ke dunia ini dengan selamat,
mendapatkan ASI penuh hingga dua tahun, dan disusui oleh ibunya sendiri yang
telah bertaubat.

Dalam kisah serupa disebutkan, *"Sesungguhnya dia telah bertobat dengan
sungguh-sungguh. Seandainya tobat perempuan ini dibagi-bagikan kepada tujuh
puluh orang penduduk Madinah, maka hal itu masih cukup. Pernahkah kamu
menemukan tobat yang lebih baik dibandingkan apa yang dilakukan perempuan
ini? Dengan jujur dia menyerahkan dirinya supaya dilaksanakan hukuman Allah
atasnya."* (HR Muslim)

Hanya Allah pemberi taufik dan hidayah.

*Penyapihan: Wajib di Usia Tepat Dua Tahun?*

Dalam tafsir Ibnu Katsir, ketika menjelaskan surat Al Baqarah ayat 233
tentang anjuran pemberian ASI, disebutkan, “Ini adalah bimbingan dari Allah
Taála bagi para ibu supaya mereka menyusui anak-anaknya dengan sempurna,
yaitu dua tahun penuh. Dan setelah itu tidak ada lagi penyusuan.”

Yang dimaksud dengan “setelah itu tidak ada lagi penyusuan” adalah bahwa
penyusuan yang terjadi setelah anak mencapai dua tahun itu tidak dianggap
“penyusuan”. Hal ini berkaitan dengan hukum mahram yang terjadi antara anak
dengan ibu susu, seperti yang dijelaskan dalam tafsir tersebut. Rasulullah
-shallallahuálayhi wa sallam- bersabda, *“Tidak menjadikan mahram akibat
penyusuan, kecuali yang dilakukan kurang dari dua tahun.”* [HR.
Ad-Daruquthni]. Dan dalam hadits lain disebutkan dengan tambahan, *“Dan
penyusuan setelah dua tahun itu tidak mempengaruhi apa-apa.”*

Kedua hadits tersebut menunjukkan bahwa penyusuan atau pemberian ASI yang
sebenarnya adalah dalam kurun waktu dua tahun, sedangkan yang setelahnya
tidak dianggap “memberi ASI”. Karena seperti yang disebutkan dalam hadits
lain, *“Sesungguhnya penyusuan itu karena rasa lapar.” [HR Bukhari dan
Muslim]*. Maka pemberian ASI kepada seorang anak sebelum ia berusia dua
tahun dianggap sebagai penyusuan yang sebenarnya karena ASI ketika itu
dibutuhkan untuk mengenyangkan perutnya, sedangkan yang setelahnya tidak
dianggap demikian. Dan memang seperti yang dijumpai di dalam realita, bahwa
anak-anak yang telah mencapai dua tahun atau lebih yang masih menyusu ASI
kepada ibunya adalah memang bukan untuk mengenyangkan perutnya, melainkan
karena mereka masih ingin selalu bersama ibunya, dalam pelukannya sambil
“menyusu”.

Dan ini merupakan merupakan salah satu contoh lain dari kasih sayang dalam
Islam, Alhamdulillah. Tidak diwajibkannya menghentikan penyusuan atau
menyapih setelah anak mencapai usia dua tahun merupakan bukti dari betapa
Islam memperhatikan anak-anak. Allah telah menakdirkan kesulitan bagi
seorang anak untuk begitu saja lepas dari dekapan ibunya, begitu juga
sebaliknya, betapa sulitnya ibu melepaskan anaknya dari dekapannya.

Memahami surat Al Baqarah ayat 233 di atas sebagai dalil wajibnya menyapih
terhadap anak yang telah mencapai usia dua tahun adalah tidak tepat. Karena
ayat di atas tidak berbicara tentang hal itu, melainkan tentang anjuran agar
para ibu menyusui anaknya hingga penyusuan itu sempurna yaitu hingga dua
tahun. Adapun yang wajib dilakukan setelah itu tidak disebutkan. Seandainya
yang dimaksud adalah demikian, maka tentu akan kita dapatkan penjelasan
ulama tentang hal ini, namun tidak ada satupun penjelasan ulama mengenai hal
tersebut. Yang ada justru apabila penyapihan dilakukan sebelum dua tahun,
yaitu bila memang ada suatu sebab yang tidak memungkinkan untuk terus
melakukan penyusuan hingga sempurna selama dua tahun maka menyapihnya
sebelum itu dibolehkan, yang berarti perkara penyusuan hingga dua tahun ini
adalah suatu hal yang amat dianjurkan, bahkan dalam literatur Arab, anjuran
tersebut bermakna lebih kepada perintah.

Ada satu kisah yang insya Allah dapat menjelaskan hal ini, yaitu kisah Ummu
Sulaim yang dikenal sebagai shahabiyyah yang hidup di zaman Nabi
–shallallahu ‘alaihi wa sallam-, teladan wanita shalihah, ibu dari Anas bin
Malik –radhiyallahu ’anhu- yang merupakan salah seorang sahabat yang banyak
meriwayatkan hadits Nabi –shallallahu ‘alaihi w sallam-

Ketika Islam bersinar di muka bumi, cahayanya sampai di hadapan Ummu Sulaim,
maka yang pertama kali dia dakwahi adalah keluarganya, yaitu suaminya. Namun
suaminya menolak, hingga ia mati dalam keadaan kafir. Ketika Ummu Sulaim
mengetahui suaminya terbunuh, ia tetap tabah dan mengatakan, *”Aku tidak
akan menyapih Anas hingga dia sendiri yang memutuskannya, dan aku tidak akan
menikah sehingga Anas menyuruhku.” *

Dari kisah di atas dapat kita ketahui bahwa kemungkinan ketika itu Anas bin
Malik masih kecil dan masih menyusu. Seandainya penyapihan wajib dilakukan
ketika anak berusia dua tahun, maka tentu Ummu Sulaim tidak akan mengatakan
bahwa ia tidak akan menyapih Anas sampai anaknya itu sendiri yang
memutuskan. Karena bila demikian halnya maka Ummu Sulaim telah menyelisihi
syariat Islam, yang tentunya hal itu akan mendapat teguran dari
Nabi-shallallahu ‘alaihi wa sallam- yang masih hidup di zaman itu. Namun
tidak ada keterangan dari para ulama mengenai hal ini, sedangkan kisah ini
mahsyur di kalangan mereka. Wallahua’lam.

*Menyapih Ala Islam*

Tidak disebutkannya kewajiban menyapih di usia tepat dua tahun, bukan
berarti anak seterusnya tidak disapih. Tentu saja, bagi siapa saja yang
ingin menyapih anaknya tepat di usia dua tahun, maka itu adalah yang terbaik
karena telah disebutkan dalam surat Al Baqarah ayat 233 bahwa penyusuan
hingga dua tahun adalah penyusuan yang telah sempurna. Namun bagimana cara
menyapihnya adalah dikembalikan kepada orang tua masing-masing.

Namun salah satu faidah yang dapat kita ambil dari ayat tersebut tentang
penyapihan sebelum dua tahun, adalah bahwa hal itu haruslah dilakukan dengan
kerelaan dan musyawarah antara ayah dan ibu. Karena tidak jarang penyapihan
ingin dilakukan oleh sang ibu saja, karena sudah lelah, kerepotan atau
karena alasan lain, ataupun ayah saja yang menginginkannya karena tidak
ingin ikut-ikutan repot, atau agar istrinya bisa merawat diri, dan
lain-lain. Maka tidak menutup kemungkinan penyapihan setelah anak mencapai
dua tahun pun seharusnya dengan kerelaan dan musyawarah antara ayah dan ibu.
Ditambah lagi anak yang yang telah berusia dua tahun pun sudah bisa diajak
bermusyawarah, maka tentu adalah hal yang sangat terpuji bila penyapihan
dapat dilakukan dengan kerelaan sang anak pula. Apalagi Islam telah
mengajarkan melalui Nabi Allah Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam- agar
menyayangi anak-anak. Maka apakah menolak menyusui anak dan membiarkannya
menangis adalah kasih sayang seperti yang diajarkan Islam, sementara Nabi
–shallallahu’alayhi wasallam- pernah memperpendek sholatnya karena mendengar
seorang anak yang menangis?

Allah berfirman,* “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada
dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang
bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan
kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.”* [QS Luqman :
14]

Ayat di atas menunjukkan bahwa pemberian ASI yang sempurna hingga penyapihan
adalah jasa kedua orang tua. Maka jadikanlah jasa ini sebagai kenangan indah
yang akan dikenang baik oleh anak-anak hingga mereka besar nanti.
Menyapihlah dengan kasih sayang, sebagaimana Islam telah mengajarkannya.

Wallahua’lam.

*Ummu Sumayyah Mutiara*
(Selesai ditulis pada hari Jum’at, tanggal19 Februari 2010, Jam 16.15 WIB)

Sumber Bacaan:
- Al Qur’an Digital
- Tafsir Ibnu Katsir, Pustaka Imam Syafi’i
- Al Bidayah wan Nihayah, Darul Haq
- Subulus Salam Syarah Bulghul Maram, Darus Sunnah
- Al Wajiz, Pustaka As Sunnah
- Sukses Mendidik Buah Hati Sejak Dini, Al Qowam
- www. almanhaj.or.id
- www.thalib.wordpress.com
- www.asysyariah.com

Wednesday, December 7, 2011

17+7 Alasan Tidak Menggunakan Susu Formula (Sufor)

Berawal dari diskusi di milis asiforbaby, tentang salah satu ibu yang minta masukan 20 alasan tidak menggunakan sufor, yang merupakan permintaan ayahnya, yang ingin cucunya diberi sufor.

Mudah-mudahan bermanfaat untuk ibu sekalian, yang barangkali sedang mempertimbangkan untuk memberikan sufor untuk bayinya, atau yang sebenarnya ingin tetap ASI, tetapi ada pihak lain yang menyarankan untuk memberikan sufor.

Saya bukan anti sufor, anak ketiga saya ASI plus sufor karena memang ASI pompaan saya selama jam kerja tidak mencukupi. Namun, penggunaan sufor harus dengan pertimbangan yang sangat-sangat panjang, dan merupakan alternatif terakhir setelah upaya peningkatan produksi ASI dan penggunaan donor ASI.


Dari saya, ketemu 17 alasan berikut, dalam point-point yang singkat :

1. ASI masih cukup
2. Sufor bisa membuat sembelit, pada beberapa kasus membuat mencret
3. Kalau sudah minum sufor ada kemungkinan ngga mau ASI lagi, karena rasa sufor yang lebih "enak"
4. Sufor adalah susu sapi, bagaimana pun ada kemungkinan ketidakcocokan dengan bayi non sapi
5. Ada beberapa kasus bayi memiliki intoleransi terhadap laktosa pada susu formula
6. Ada beberapa bayi alergi sufor (bintik merah, gangguan pernafasan)
7. Sufor lebih sulit dicerna bayi, karena komposisinya berbeda dengan ASI
8. Beberapa bayi cenderung menjadi kegemukan setelah minum sufor
9. Anak menjadi keterusan minum susu padahal setelah besar tidak perlu lagi
10. Perlu biaya tambahan untuk beli sufor, ASI gratis
11. Sufor adalah susu cair yang dikeringkan lalu dicairkan lagi, proses pembuatan terlalu panjang, nilai gizi sudah sangat berkurang
12. Sufor banyak ditambahkan zat-zat kimia untuk mengganti gizi yang hilang, memberatkan ginjal bayi
13. Beratnya kerja ginjal dan pencernaan karena minum sufor, dapat menyebabkan tubuh tidak fokus, sehingga daya tahan tubuh berkurang
14. Karena rasa sufor yang manis, anak menjadi pemilih makanan
15. Jika anak terlalu banyak minum sufor karena rasanya yang manis, jadi terlalu kenyang untuk makan yang lain
16. Sufor dibuat untuk pengganti ASI, jika ASI masih ada, tidak perlu sufor
17. Susu bubuk awalnya dibuat untuk dibawa ke daerah yang jauh, agar tidak rusak. Jika kondisi tersebut tidak terjadi, sebenarnya tidak perlu susu bubuk.


Dari member milis yang lain, yang pernah bekerja di perusahaan susu, ada 7 point yang lebih komprehensif berikut :

1. Sufor adalah susu sapi yang sampai kapanpun tidak akan pernah sama dengan ASI.

2. Sufor yang tagline-nya kaya akan AA, DHA, kolin, dll yang fungsinya untuk otak, itu adalah smuanya premix atau bahan kimia sintetis & bukan alami. Sebagaimana kita tahu bahan kimia sintetis/buatan yang bila diberikan dalam jangka panjang akan memberikan efek samping yang dikhawatirkan akan merugikan.

3. Gula pada sufor mayoritas berupa sukrosa (dengan jumlah yang sangat tinggi di salah satu sufor). Ada juga sufor yang klaimnya tidak mengandung gula, tetapi gula karbohidrat berupa laktosa yang mirip dengan ASI. Namun, sampai kapanpun tidak akan pernah ada produsen yang dapat membuat gula persis dengan ASI. Gula tambahan itu yang akan menjadi bahan aditif, sehingga bayi ketergantungan pada sufor karena rasanya yang manis. Gula itu juga bersamaan akan mengganggu kerja organ ginjal bayi sehingga lebih berat untuk mencerna gula atau disebut Renal Salute Load (RSL).

4. Kasein pada sufor susah dicerna oleh bayi, sehingga membuat gumpalan di pencernaan bayi, yang membuat bayi mengalami gangguan pencernaan.

5. Memberatkan kantong :-)

6. Jika diperhatikan di setiap kemasan sufor pasti ada tulisan keciiiilll "ASI adalah makanan terbaik untuk bayi". Jadi di setiap kemasan ada warning, tetapi tetap menggencarkan kampanye untuk menjaga kontinuitas usahanya. Hal ini sebenarnya sudah melanggar peraturan dari WHO yang menyatakan bahwa sufor itu hanya untuk bayi yang benar-benar sangat tidak bisa mendapatkan ASI dari ibunya, karena ibunya mengalami gangguan sehingga ASI tidak keluar dalam jangka waktu lama) dan pemberiannya harus berdasarkan resep dokter.

7. Business is business, dan target sufor tetap berjalan, sehingga marketing tetap digencarkan untuk mengeluarkan stock sufor untuk bayi yang sebenarnya tidak membutuhkan.

Sunday, December 4, 2011

Mamalia ASI

Copas dari milis balita-anda dan asiforbaby, artikel bagus banget tentang Mamalia ASI, bisa jadi analogi buat kita dan ASI, plus info anak-anak sapi yang kehilangan susu induknya, plus ada juga satu info yang menarik, bahwa sebagai pengganti kolustrum untuk mamalia, digunakan ramuan yang salah satu bahannya adalah madu..

Sumbernya dari :
http://www.facebook.com/notes/fitri-titi/mamalia-asi/10150382888141516?_rdr

Semoga bermanfaat yaaa.. :-)


==

MAMALIA ASI

oleh Fitri Titi pada 29 November 2011 jam 8:01

Sore itu hujan turun cukup lebat di Jogja utara. Kulihat adikku yang cantik, winantika, bengong2 saja menatap hujan sambil nyruputin teh anget. Iseng2, kuajak dia ngobrol. Oiya, winantika ini mahasiswi tingkat akhir di fak kedokteran hewan ugm sodara2. so cekidot, obrolan kami menarik deh, sumpeh... karena waktu itu obrolan mengalir begitu saja, di tulisan ini kukelompokkan gitu deh, ada yang tentang mastitis pada hewan, kolostrum, komposisi susu hewan, dan donor asi hewan, juga sapi yang dipaksa nggak nyusu induknya...

Fitri Titi (FT) : Dek Win, ada pelajaran tentang mamalia pastinya ya..

Winantika (W) : yoiiii


FT : Mamalia itu anaknya nyusu khan ya?

W : yup


FT : Nah mamalia yang asi itu adakah kasus yang induknya gak bisa menyusui ?

W : Ada mbak , biasanya kena mastitis. Kayak kucing, sapi, babi, anjing , dsb , biasanya gak menyusui karena mastitis


FT: Artinya asi-nya ada, tapi karena penyumbatan jadi mastitis,gitu-kah?

W: Iya, sebenernya asi-nya ada , makanya kalau mastitis, payudaranya jadi bengkak . Ada juga sih yang mastitis subklinis, gakda nimbulin gejala.


FT: Okay. Pertama yang mastitis dulu, itu kalau dibedah, setelah itu induknya bisa nyusuin-kah?

W: Biasanya kalau mastitis , gak dioperasi , tapi diobatin saja, pake antibiotik gitu.


FT: Ooo, habis diobatin terus lancar menyusui D?

W: Iya , tapi terapinya lumayan agak lama lho ya. Mastitis ada juga yang masih teteup keluar air susunya , yang begini malah bahaya karena anaknya yang bakal kena bakterinya dari mastitis induknya.


FT: Lah kalu yg subklinis pertolongannya gimana? Khan tanpa gejala tuh?

W: Sama lah mbak disuntik antibiotik intramamari. Karena nggak ada gejalanya makanya harus cek lab. Biasanya positif bakteri. Dan kalau sudah akut ya tandanya tiba2 saja air susunya gak keluar mbak.


FT: Kalu sampe asi gak keluar (pada yang subklinis atopun bukan) njuk piye bayi mamalia nya?

W: Biasanya kalau pada sapi, khan anak sapi baru lahir butuh kolostrum tuh, ya biasanya kita kasih ke induk lain mbak. Ato pake kolostrum buatan. Khan bisa dibuat mbak.


FT: Kolostrum buatan? Kaya susu sapi bubuk pada bayi manusia dunk hehehe… Itu berlaku pada sapi saja atau juga kucing, anjing, gajah dll?

W: Yaaa kadang pake susu dari induk sapi lainnya, trus ditambah ramuan , kayak madu dll, aku lupa je ramuan resepnya hehehe. Trus abis itu diminumin, disuapin sama mahasiswa2 gitu mbak. Kalau kucing juga dicari ibu pengganti, soalnya kalu kucing khan nggak boleh pake susu sapi. Lebih susah lagi mbak kalau untuk anjing ato kucing, karena susunya harus non laktosa. Khususnya kucing, bener2 harus non laktosa, jadi ada khusus susu kucing. Jadi bayi kucingnya nggak boleh dikasih susu formula apapun, kecuali anak kucing itu udah lumayan gede


FT: Maksudnya kalau di hewan yang jadi masalah itu perbedaan laktosa? *sori gak mudeng sisan sinau*

W: misalnya itu. Gini deh, kalau susu sapi kan ada kandungan laktosanya, nah kalau kucing tuh nggak ada laktosanya di dalam susunya. So kalau anak kucing itu dikasih susu yang mengandung laktosa wah kasian abis deh. soalnya harusnya non laktosa, itu kalau kucing karena bisa berakibat kematian mbak. Jadi imunosupresi ( kekebalan imun turun )


FT: Haaah? Sampai kematian? Wih ngeri juga ya. Kalu kucing kena laktosa gitu, diare gak? *maap pertanyaan lugu*

W: hadeh plis deh, ya eyalah. Kalau kucing kena laktosa bisa diare parah, trus bikin kerusakan sistem pencernaan, terus ya mati mbak, gak ada pertahanan tubuh juga kan. Soalnya buat anak hewan baru lahir, pertahanan tubuh itu ada di kolostrum, nah kolostrum cuma dihasilkan pada pertama susu keluar. Kalau dari awal udah nggak disusui , berarti daya tahan tubuh si bayi kucing ato bayi hewan lain itu ga ada.


FT: Subhanallah, artinya sebetulnya Allah sudah mendesain kebutuhan asi yang spesifik untuk setiap jenis spesies ya. Asi kucing ya cocoknya untuk bayi kucing, asi sapi untuk sapi dst.

W: hahahaha, Iyaaap , betul sekali. Ya eyalah ,susu sapi ya buat sapi , sebenernya memang nggak boleh kalau hewan lain harus dikasih susu sapi walaupun manusia minum susu sapi juga ya,,hihi hehe haha. Lebih rentan mbak kalau hewan, soalnya komposisi susu sapi ato susu hewan lain itu masing2 beda lho mbak


FT: Nah lho, ini dia nih, antar hewan saja beda komposisi susunya, apalagi antara susu hewan dengan manusia ya *menerawang*

W : Iyaaa lah mbak beda bangeting banget. Makanya kasihan banget ya kalau bayi nggak dikasih asi. Termasuk bayi manusia lho, meskipun aku gak belajar banyak bayi manusia, tapi manusia mamalia juga khan hahahahaha... Nggak cuma laktosa saja lho mbak yang jadi masalah kalau di hewan.


FT: persis plek lho d Win karo pelajaranku asi, sampe merinding dengerinnya

W: Oalaaaah, iya mbak, aku juga dapat yang manusia, tapi nggak begitu banyak, cuma buat pembanding aja. Aku juga merinding sama nelangsa dulu pas kuliah yang mamalia-mamalia gitu. Kasian puoool. Apalagi sapi perah, sejak pertama lahir langsung dipisah dari induknya mbak. Jadi bayi sapi perah diminumin pake kolostrum buatan dan harus dijatah kalau minum. Soalnya khan susu induknya buat manusiaaa. Jadi anak2 sapi perah dari pertama lahir udah langsung nggak dapet susu induknya langsung mbak


FT : *nangis guling-guling* Jahatnya manusia ya. Terus sapi2 itu nyusu apa? Ato nyusu siapa?

W: Iyaaa sebenernyaaa jahat, hiks. Ya pake susu sapi yang udah diperah manusia itu dan minumnya dijatahin. Aku dulu setiap sore nyusuin bayi sapi pake dot. Kasiaaaaaan banget. pertama-pertama nglakuinnya, aku sampe nangis Mbak ngedotin bayi sapi. Wong ya induknya ada kok harus minum asi perah induknya dan dijatah. Aku ngebayangin kayak manusia gitu. Apapun khan sapi juga makhluk hidup tho. Kan harusnya dia bisa minum sepuasnya dari induknya. Tapi karena komersil, ya mending diperah buat manusia, khan dijual ngedatengin duit bo.


FT: Sapi perah itu apa menghasilkan susu setiap saat? Kalu pas ora lahiran opo yo metu susune?

W : yo nggak lah mbak, cuma pas masa laktasi aja dia keluar susunya. Trus kalu abis masa laktasi, masuk masa kering dulu, abis itu baru sapi dikawinkan lagi. Nah kalau dia ngelahirkan khan berarti susunya keluar lagi, and diperah lagiii , gitu deh seterusnya


FT: Berarti opo disuntik sesuatu supaya bisa keluar susu terus?

W: Ya ga mbak . Ga disuntik apa2 mbak , cuma ditunggu masa laktasinya ajaaa


FT : Nah tuh sapi tadi, jaraknya dari melahirkan, kering, dikawinkan lagi, sampai melahirkan lagi berapa bulan :D?

W: Bagusnya satu tahun mbak , soalnya mempengaruhi kualitas susunya


FT : Berarti dalam setahun masa panen perahnya sekali ya. Selama berapa bulan D Win masa perahnya?

W: Masa laktasi 10 bulan mbak


FT : *mulut mangap udah napsu maw tanya2 lagi niy* eh winantikanya sudah keburu beberes mau nengok ayam2 di kandang katanya. Padahal hujan masih dueres L (lebih tepatnya ngobrolku belum puas tuntas neeeh).

Okay deh, thanks d winantika. Kapan2 terusin lagi yak...


------------------------
jogja utara,
obrolan di awal nopember 2011

Susu Formula Seharusnya Pakai Resep Dokter

Copy paste dari milis Gizi Bayi Balita, di paling bawah ada ulasan dari Pak Wied Harry, ahli gizi. Semoga bermanfaat, mari kembali ke cara yang alami yang lebih sehat. Manusia bagian dari alam, maka yang paling tepat untuk manusia adalah yang alami :-)

==

Susu Formula Seharusnya Pakai Resep Dokter

Sebenarnya setelah berusia 2 tahun, anak tidak membutuhkan susu lagi.


JUM'AT, 11 FEBRUARI 2011, 14:00 WIB

Ita Lismawati F. Malau


SURABAYA POST- Sesuai dengan ketentuan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) susu berlabel formula itu sebenarnya susu yang dibeli sesuai petunjuk/resep dokter serta tidak bisa dijual bebas.

"Di Indonesia ada susu formula untuk bayi baru lahir sampai orang yang mau meninggal dunia serta dijual bebas tanpa resep dokter. Kalau ada orang WHO ya pasti terkejut," kata Rizal Altway, dokter spesialis anak di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sidoarjo (RSUD), Jumat 11 Februari 2011.

Dia lantas mengutip aturan lain yang tercantum dalam Peraturan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 1981 tentang Pemasaran Pengganti ASI. "Di antaranya disebutkan, fasilitas kesehatan tidak boleh digunakan untuk promosi susu formula atau produk sejenis memajang produk pengganti ASI, serta tidak boleh menerima donasi atau membeli susu formula dengan harga diskon," terangnya.

Sebenarnya, Indonesia pun memiliki aturan soal pemasaran susu formula ini dalam Surat keputusan Menteri Kesehatan Nomor 237 tahun 1997 tentang Pemasaran Pengganti Air Susu Ibu. Namun, dia menilai pelaksanaan dan pengawasan aturan ini di lapangan kurang maksimal.

Disamping itu, menurut dia, tidak adanya sanksi yang tegas dan jelas soal hal ini membuat produsen susu semakin gencar saja memasarkan produk susunya. " Lihat saja produk susu formula semakin banyak beredar bebas di masyarakat," ungkap Rizal.

Ia menjelaskan, sebenarnya setelah berusia 2 tahun, anak tidak membutuhkan susu. Seluruh kecukupan kalori dan nutrisinya diharapkan terpenuhi dari beragam bahan makanan sehat alami yang diberikan kepadanya. "Untuk batita 1-2 tahun, cukup berikan 200 mililiter susu formula (sekitar 50 gram susu bubuk) pada jeda waktu antara makan siang dan makan malam. Anda bisa memberikannya setelah si kecil menghabiskan kudapan sore atau di antara waktu makan siang/malam dan mengudap," tuturnya.

Rizal mengatakan, orangtua jangan menyerahkan tanggung jawab tumbuh-kembang anak pada susu sapi dengan menempatkan susu sebagai makanan utama penunjang pertumbuhan batita. "Perlakukan susu sama derajatnya dengan makanan bergizi lainnya. Jangan mudah terprovokasi dengan mengikuti anjuran produsen susu agar memberikan susu formula minimum dua gelas per hari pada anak balita (seperti anjuran dalam label kemasan)," saran dokter yang juga penggerak program Inisiasi Menyusui Dini dan ASI eksklusif 2 tahun.

Ketimbang ribut-ribut soal merek susu apa yang terkontaminasi bakteri, Rizal menyarankan masyarakat menyebarkan informasi soal ASI eksklusif 2 tahun. " Selain lebih sehat ASI juga dapat memenuhi seluruh kebutuhan bayi dan keunggulannya tidak bisa digantikan dengan susu lain," tuturnya.

Sementara dokter spesialis anak dari Perhimpunan Peritanologi Indonesia, Asti Praborini, mengatakan masyarakat Indonesia salah kaprah dari awal soal penggunaan susu formula. "Ini berawal dari kekurangpahaman, termasuk di kalangan tenaga kesehatan," ujarnya.

Menurut Asti, sangat wajar bila ASI belum langsung keluar sesaat setelah persalinan sehingga petugas kesehatan segera memberikan susu formula. "Padahal, sebetulnya tidak perlu demikian," ujar Asti.

Ia kemudian menjelaskan, saat berada di dalam kandungan, bayi mendapat asupan melalui plasenta sehingga dapat dikatakan lambung berpuasa selama bayi di kandungan. "Begitu lahir, kapasitas lambung bayi hanya sebesar kelereng. Bayi belum membutuhkan banyak ASI dan umumnya produksi air susu ibu baru melahirkan masih sedikit. Setelah sepuluh hari, kapasitas lambung mulai bertambah menjadi sebesar bola pingpong," ujarnya.

Terkadang dibutuhkan beberapa hari baru produksi ASI lancar dan memadai jumlahnya. "Jika ibu terus menyusui sekalipun air susu belum keluar, itu ikut merangsang produksi air susu," katanya.

Kekhawatiran lain yang menghambat proses menyusui ialah kekhawatiran berat badan bayi turun. "Turunnya berat bayi selama 6-7 hari setelah dilahirkan merupakan hal normal. Pada hari kesepuluh baru berat badan bayi mulai naik," jelasnya.

Asti berpandangan, sedapat mungkin ibu harus berjuang memberikan ASI bagi bayinya. "ASI tidak hanya mengandung komponen makronutrien seperti karbohidrat, protein, dan lemak, tetapi juga mikronutrien, vitamin, dan mineral. Kekentalan ASI pun sesuai saluran cerna bayi. ASI menyediakan semua yang dibutuhkan bayi pada masa-masa awal kehidupannya."

Laporan: Nirmala Ali / • VIVAnews

ULASAN WIED HARRY:
Produsen susu formula adalah raksasa bisnis dengan kemampuan finansial hampir tak terbatas. Mereka bisa melakukan promosi dengan cara apa pun untuk merayu konsumen. Bahkan, sampai Pemerintah, dokter, serta ahli gizi pun menyerah - meskipun ada juga sejumlah kecilll dokter dan sejumlah kecilll ahli gizi yang mengabaikan. Karena itu, kita sendirilah yang harus menjadi benteng pertahanan terakhir agar susu formula tidak sampai menjadi "makanan utama" bayi-balita kita. Serahkan kesehatan dan tumbuh-kembang bayi-balita Indonesia hanya kepada ASI dan (setelah bayi berusia 6 bulan) makanan segar alami penuh gizi. Bukan susu formula!

Thursday, September 8, 2011

Rekomendasi Pompa ASI (Breastpump)

Sebenarnya, metode pemerahan ASI yang paling efektif dan simpel adalah perah manual dengan tangan. Tidak perlu membeli dan membawa alat pompa, tidak perlu baterai/listrik, tidak perlu mencuci alat / corong, dll dsb. Hanya memang tidak semua orang sukses dengan cara ini.

Berdasarkan pengalaman pribadi, berikut rekomendasi Pompa ASI (Breastpump/BP).
Yang pernah saya coba ada 2 BP yaitu Medela Swing dan Avent Manual. Dua-duanya saya suka, dengan kelebihannya masing-masing :-)

Medela Swing paling saya suka untuk saya bawa ke mana-mana. Suaranya tidak terlalu bising, sehingga kalau kita memompa di mobil, masih bisa sambil ngobrol, dengan suami tentu saja, jangan di bis kota :-) Selain itu ada mekanisme 2 fase pemompaan, yang bisa memicu keluarnya ASI. Bentuk mesinnya juga cantik dan simpel. Pas di kantor pun ada alatnya Medela, sehingga corong Swing saya bisa disambung juga ke alat di kantor.

Tadinya saya hanya menggunakan Swing ini saja. Tapi ternyata Swing ini cukup berisik kalau saya gunakan untuk memompa sambil menemani anak saya tidur.

Lalu iseng-iseng saya coba tanya ke teman, apa ada rekomendasi pompa manual yang suaranya sepi dan efektif kerjanya. Ketemulah saya dengan Avent Manual.

Avent Manual keren banget untuk pompa di kamar di malam hari. Suaranya minimal sekali, sehingga tidak mengganggu bayi saya yang sedang tidur. Dan pompanya ada dua lapisan, yang keras dan lunak, sehingga seperti ada pemijatan yang membuat ASI bisa terpompa sampai habis. Alatnya pun simpel sekali. Hanya saja, botolnya berbeda ukuran dengan Medela yang dipakai anak saya untuk minum ASIP, jadi botol Avent hanya saya gunakan untuk memompa.

Demikian rekomendasi dari saya, semoga bermanfaat :-)

Thursday, May 19, 2011

Meningkatkan Produksi ASI

Ada yang menyatakan bahwa sebenarnya tidak ada makanan tertentu yang dapat meningkatkan produksi ASI.

ASI adalah proses demand-supply, sehingga semakin banyak dikeluarkan, akan semakin meningkat produksinya. Dan faktor yang mempengaruhi produksi ASI adalah dua hormon yaitu oksitosin dan prolaktin. Maka seringkali disampaikan bahwa yang terpenting adalah sugesti dan keyakinan.

Namun, dari pengalaman saya sendiri, rasanya ada juga ya makanan-makanan yang meningkatkan produksi ASI. Hanya jika saya perhatikan, makanan-makanan itu berpengaruh di awal. Maksudnya, jika kita makan secara rutin, rasanya tidak terlalu membuat peningkatan. Terasa peningkatan ketika baru hari itu kita makan makanan tersebut. Hehe, mudah-mudahan bisa dimengerti maksud saya.

Mungkin artinya ada hubungannya dengan kesenangan juga ya? Bagaimanapun ada rasa bosan jika makanan tidak berganti-ganti, dan ada rasa senang jika ada makanan baru :-) Mungkin :-)

Berikut beberapa makanan yang rasanya cukup berpengaruh meningkatkan produksi ASI saya :
- Jus pare muda + melon
- Sayur katuk
- Kacang tanah
- Kacang merah
- Kacang ijo
- Jagung manis
- Habbatussauda
- Sari kurma
- Klorofil
- Daun pepaya
- Bunga pepaya

Silakan dicoba, dan dibuat bervariasi setiap harinya.. :-)

Friday, February 18, 2011

Mari Beralih ke Susu Kambing

Beberapa penelitian menyebutkan bahwa susu sapi ternyata kurang baik bagi kesehatan.

Dalam bukunya, "Miracle of Enzyme" dan "Mukjizat Mikroba", dr. Hiromi Shinya, seorang dokter bedah usus berkebangsaan Jepang yang tinggal di Amerika Serikat menyebutkan bahwa susu sapi sangat sulit dicerna, sehingga menguras persediaan enzim yang juga berguna untuk daya tahan tubuh.

Dan bertentangan dengan yang selama ini diyakini masyarakat, susu sapi justru meningkatkan resiko osteoporosis. Detil penjelasannya silakan dibaca di buku tersebut ya :-)

Ross Taylor, seorang penderita kanker yang berhasil bertahan, dalam bukunya "Living Simply with Cancer" juga berpendapat yang sama.

Menurut Ross Taylor, di negara dengan konsumsi susu tinggi seperti Amerika Serikat, Finlandia, Swedia, kasus osteoporosis justru tinggi. Dan di negara dengan konsumsi susu rendah, justru kasus osteoporosis juga rendah.

Lalu apakah kita tidak perlu minum susu?

Ada satu hal yang mengganjal bagi saya, yaitu bahwa Al Qur'an dan Hadits yang menggambarkan manfaat dari minum susu.

Bagi saya Al Quran dan Hadits adalah "manual book" kehidupan, yang pasti benar.

Lalu bagaimana penjelasan pertentangan ini?

Ternyata jawabannya ada di susu kambing!

Pada zaman Rasulullah, susu yang umum diminum masyarakat adalah susu kambing, bukan susu sapi.

Sayangnya dr. Hiromi tidak menjelaskan tentang susu kambing. Tapi, ada penjelasan dari Ross Taylor.

Berbeda dengan susu sapi yang ber-pH rendah sehingga bersifat asam bagi tubuh, susu kambing ber-pH tinggi sehingga bersifat basa.

Tentang pentingnya sifat basa bagi tubuh kita dapat dilihat pada tulisan ini.

Jika kita lihat kandungannya, memang terdapat perbedaan antara kandungan susu kambing dan susu sapi.

Dengan kandungan tersebut, susu kambing ternyata lebih mirip dengan ASI, sehingga dapat digunakan sebagai susu pengganti bagi anak yang alergi susu sapi.

Wah, ternyata oke juga ya susu kambing? Yuk kita pindah ke susu kambing!

Wednesday, January 5, 2011

ASI dan Penggunaan Obat Rasional

Copy paste dari milis Balita Anda, sumber aslinya dari AIMI. Semoga bermanfaat :-)

Dari AIMI, bagus untuk Ibu2 dan Bapak2 yg masih ragu kenapa Antibiotik "1/2
haram" untuk bayi ^_^

Ada beberapa gambar yg mungkin engga muncul ya.. kalau mau lihat
selengkapnya klik ke :
http://aimi-asi.org/2011/01/asi-dan-penggunaan-obat-rasional/


ASI dan Penggunaan Obat Rasional

By dr. Fransisca Handy, SpA, IBCLC
on January 5th, 2011

Air susu ibu (ASI) tidaklah asing lagi ditelinga kita dan semua orangtua
yang mendapatkan informasi dan dukungan yang tepat pasti berharap dapat
memberi ASI pada bayinya sesuai dengan standard emas pemberian makan pada
bayi. Namun apakah yang dimaksud dengan penggunaan obat rasional (POR)? Apa
hubungan ASI dengan POR ?

Tahukah ayah ibu sekalian, bahwa menggunakan obat secara rasional pada bayi
di saat sakit ternyata amat membantu agar manfaat ASI dapat benar-benar
optimal diperoleh sang bayi?

Mari kita telaah apa saja yang ada dalam standard emas makanan bayi. Yang
pertama tentu Inisiasi Menyusu Dini. Selama proses IMD bayi diletakkan di
dada ibu, bersentuhan kulit dengan kulit dan ketika bayi mulai berusaha
mencari dia akan menjilati kulit dada dan payudara ibunya. Apakah yang
didapat sang bayi dari kulit ibu: bakteri baik. Ya, di kulit kita terdapat
jutaan sel bakteri baik yang melindungi kulit agar bakteri jahat dan jamur
tidak tumbuh. Bakteri baik ini akan masuk ke dalam usus bayi dan berkembang
biak di sana, melindungi bayi dari penyakit diare akibat bakteri jahat.
Terlebih bila sang bayi lahir secara normal, ada begitu banyak bakteri baik
di sepanjang jalan lahirnya. Setelah IMD, tentu dilanjutkan dengan ASI
eksklusif selama 6 bulan. Setiap kali menyusu pada payudara, tentu bayi
mendapat asupan bakteri baik tembahan baik lewat sentuhan mulut bayi dengan
payudara maupun lewat ASI itu sendiri. Zat kekebalan yang dibawa ASI tentu
bukan hanya bakteri baik, tapi ada aneka sel darah putih dengan macam-macam
fungsi dalam jumlah berlimpah mulai dari anti-in26feksi, anti radang,
pelapis usus, anti alergi dan sebagainya. Setelah berusia 6 bulan, bayi
mulai mendapat makanan pendamping alami. Apakah yang terkandung dalam
makanan pendamping alami yang tidak akan terdapat dalam makanan olahan
pabirk? Enzim, vitamin dan mineral alami yang juga punya daya perlidungan
luar biasa bagi bayi.

Sekarang, mari kita telaah perjalanan kesehatan bayi kita. Secara umum
ketika usia 6 bulan, bayi akan mulai sakit ringan yang ditandai dengan
gejala seperti batuk, pilek, demam dan diare atau muntah. Hal ini disebabkan
oleh zat kekebalan dari ibu yang telah mulai menurun kadarnya, ASI yang
mulai tergantikan dengan makanan pendamping ASI serta mobilitas / pergerakan
bayi yang mulai meningkat. Batuk, pilek, demam dan diare dialami semua bayi
karena ini adalah bagian dari tumbuh kembang bayi. Coba kita perhatikan di
sekitar kita, adakah balita di atas usia 6 bulan yang sama sekali tidak
pernah batuk pilek demam dan diare?

Namun, apakah yang umumnya terjadi pada bayi di saat ia sakit? Orangtua akan
membawanya ke fasilitas kesehatan (dokter atau bidan) dan sepulang dari
dokter / bidan orangtua akan dibekali dengan satu atau lebih obat. Puyer
berisikan beberapa obat yang disatukan disertai sirup anti demam umumnya
diberikan. Antibiotik tak lupa disertakan, dapat disertakan dalam puyer atau
pun dalam bentuk sirup yang terpisah. Lihatlah 2 contoh resep di bawah ini:

Resep yg sisi kiri diberikan pada bayi 1 bulan, ASI eksklusif, dgn keluhan
“flu”. Resep sisi kanan diberikan pada bayi 3 bulan, ASI eksklusif, dengan
diare akut, tanpa perdarahan. Rasionalkah? Kedua resep puyer ini mengandung
Luminal, obat anti kejang, untuk apa bayi batuk pilek atau diare dapat obat
anti kejang? Efek sampingnya amat berbahaya: perlambatan irama jantung,
tekanan darah rendah, henti napas dan depresi sistem saraf pusat. Rewel
bukan indikasi pemberian obat anti kejang, rewel lumrah terjadi saat sakit,
tenangkan dengan menyusui. Kedua resep ini juga mengandung antibiotik
(eritrhomycin dan nifural) yang sama sekali tidak diperlukan. Obat-obat lain
dalam resep ini juga tidak ada pada pedoman batuk pilek dan diare tanpa
perdarahan.

Gejala batuk pilek demam dan diare sebagian besar disebabkan oleh virus.
Virus ini pada umumnya adalah self limiting disease atau sembuh sendiri.
Sementara antibiotik HANYA dapat mematikan atau melemahkan bakteri, bukan
virus. Antibiotik tidak dapat mengenali mana bakteri baik dan mana yang
jahat, sehingga bakteri baik akan selalu ikut dihantam oleh antibiotic yang
dikonsumsi anak kita. Sia-sia lah usaha mengumpulkan bakteri baik dari
proses IMD dan ASI eksklusif. Semakin sering anak minum antibiotik, semakin
sering ia sakit, karena berkurangnya bakteri baik yang membantu pertahanan
tubuh. Penggunaan antibiotik secara tidak rasional juga menyebabkan
timbulnya resistensi atau berubahnya sifat bakteri menjadi tahan terhadap
antibiotik sehingga suatu saat kita dapat kembali ke era sebelum antibiotik
ditemukan. Antibiotik menyelamatkan hidup, maka kita harus menyelamatkan
antibiotik dengan menggunakannya secara rasional. Bila tidak ada indikasi
untuk pemberian antibiotik, STOP segera, tidak ada isitilah “terlanjur minum
antibiotik”, sebaliknya bila memang ada indikas taati aturan minumnya dengan
baik.

Ayah dan ibu sekalian, batuk pilek demam dan diare sampai tahap tertentu
sesungguhnya adalah cara tubuh untuk bertahan ketika virus masuk ke dalam
tubuh (infeksi virus). Batuk menjaga supaya jalan napas bersih dari lendir
yang dihasilkan lebih banyak ketika ada infeksi virus dan batuk juga menjaga
supaya kuman baru tidak masuk ke dalam tubuh melalui saluran pernapasan di
saat tubuh sedang berusaha melawan virus yang sudah masuk. Begitu juga
dengan pilek, tubuh berusaha mengeluarkan virus melalui lendir yang
diproduksi hidung. Pilek yang mulai kehijauan sama sekali tidak berarti
bahwa ada infeksi bakteri. Kehijauan semata-mata karena banyak sel darah
putih yang terkandung dalam lendir yang bereaksi dengan oksigen yang terjadi
justru di akhir masa sakit atau dalam proses penyembuhan. Bila hidung
tersumbat, ASI dapat diteteskan pada lubang hidung untuk membantu mengurangi
sumbatan karena ASI mengandung anti infeksi dan anti radang.

Bagaimana dengan demam ? Demam adalah tanda bahwa pertahanan tubuh sedang
bekerja. Setiap kali ada kuman masuk ke dalam tubuh, secara otomatis tubuh
akan bereaksi dan reaksi ini menghasilkan zat yang menyebabkan suhu tubuh
naik. Suhu tubuh yang naik ini juga membuat sel pertahanan tubuh dapat
bekerja lebih optimal. Oleh karena itu kita tidak disarankan untuk mengobati
demam yang ringan agar masa sakit dapat berlangsung lebih singkat karena
tubuh diberi kesempatan untuk melawan si kuman. Benar bahwa demam dapat
menyebabkan dehidrasi dan kejang, oleh karena itu perlu dipantau, diberi
cairan lebih banyak (ASI lebih baik), dikompres hangat dan diberi obat demam
hanya bila suhu di atas 38,5&derC (pada anak usia 1 tahun atau lebih). Diare
akut tanpa perdarahan umumnya disebabkan juga oleh virus. Diare membantu
tubuh membuang virus yang masuk, sehingga pemberian anti diare pada anak
tidaklah dianjurkan oleh WHO. Tata laksana diare yang utama adalah mengganti
cairan yang keluar. ASI adalah pengganti cairan terbaik, oralit dapat
diberikan jika diperlukan.

Pedoman tata laksana kasus bagi dokter maupun bidan dan perawat sebenarnya
telah lama ada. WHO telah mengenalkan Manajemen Terpadu Balita Sakit untuk
bidan dan perawat. Untuk dokter WHO telah mengenalkan Pedoman Pelayanan
Kesehatan Anak di Rumah Sakit. Sebetulnya dengan mematuhi pedoman yang ada,
rasionalitas tata laksana yang dilakukan tenaga kesehatan dapat lebih
terarah. Namun, hal ini juga memerlukan kerjasama dari para ayah dan ibu.
Tekanan kepada tenaga kesehatan untuk memberikan resep, terutama resep
tertentu seperti antibiotik atau puyer atau vitamin botolan kerap terjadi
(vitamin jauh lebih baik yang berasal dari ASI dan buah bukan?). Tahukan
ayah ibu, bahwa Indonesia adalah satu-satunya Negara yang masih meresepkan
obat berbentuk puyer. Puyernya sendiri tidak terlalu masalah, yang berbahaya
adalah praktik mencampur aneka obat menjadi satu yang belum tentu diperlukan
bayi kita. Padahal berdasarkan pedoman untuk tata laksana kasus-kasus ringan
yang saya ceritakan di atas tidak memerlukan peresepan apapun, kecuali untuk
obat anti demam bila ada indikasi. Setiap kunjungan ke tenaga kesehatan,
pastikan buah hati kita mendapatkan hanya yang terbaik.

ASI adalah investasi yang luar biasa bagi kesehatan dan tumbuh kembang anak
kita, jangan sampai penggunaan obat yang tidak rasional merusak investasi
ini. Mari kita bersama mengusahakan agar setiap anak Indonesia mendapatkan
semuanya serba Standard Emas, tidak saja soal feeding, tapi juga ketika
sakit dia mendapatkan tata laksana yg berstandar emas: bedasarkan pedoman,
berbasis bukti yang kuat. Hanya yang terbaik yang pantas kita berikan bagi
anak-anak kita bukan ? Hidup ASI, Hidup POR !!

Tuesday, June 22, 2010

Selamat Tinggal PD Bengkak

Salah satu tragedi yang kadang terjadi pada ibu menyusui adalah payudara yang membengkak karena terhambatnya saluran ASI. Tahap yang paling ringan hanya bengkak saja dan sakit di payudara. Tahap berikutnya ditambah dengan demam. Yang lebih parah adalah mastitis, di mana pembengkakan sudah menjadi infeksi dan metode penyembuhannya adalah melalui operasi, seraaaaam!

Bengkak payudara ini sebenarnya bisa dicegah yaitu dengan rutin melakukan pijat payudara dan memastikan payudara untuk selalu dikosongkan.

Pada saya, ini pernah terjadi dua kali. Yang kedua yang agak parah, meskipun tidak sampai mastitis.

Kita mulai kisahnya yaa..

Saat itu anak saya berusia sekitar 8 bulan, sudah lewat masanya ASI eksklusif. Saya yang working mom, masih rutin memerah di kantor 3 kali dalam sehari, dan menyusui langsung selama di rumah.

Pemijatan payudara pun saya lakukan secara rutin setiap sebelum mandi.

Hari itu saya pulang dari kantor sedikit terlambat. Ketika saya pulang, anak saya sudah mulai mengantuk, yang artinya saya harus segera menyusuinya.

Maka saya mandi dengan terburu-buru dan terpaksa melewatkan ritual pemijatan payudara. Kesalahan pertama.

Sambil sedikit kelelahan karena pulang terlambat itu, saya pun menyusui anak saya sampai akhirnya kami berdua tertidur. Saat itu jam 20an.

Di usia 8 bulan itu, saya menyusui dengan payudara bergiliran. Jadi jika pada suatu waktu anak saya menyusu di payudara kiri, maka di sesi berikutnya, menyusu di payudara kanan. Pengecekannya biasanya cara paling mudah saja, yaitu diingat-ingat dan sambil dirasakan mana yang lebih kempes, berarti sebelumnya sudah disusui.

Jam 23an, anak saya bangun untuk menyusu lagi. Saya yang sedang kelelahan, melewatkan lagi satu prosedur, yaitu pengecekan kekempesan payudara. Saya susukan lagi payudara yang sama dengan yang jam 20 tadi. Kesalahan kedua.

Jam 02 pagi, malapetaka itu pun datang. Badan saya tiba-tiba demam tinggi sampai menggigil. Saya sempat agak panik, wah sakit apa ya saya, apakah menular ke bayi saya?

Saking menggigilnya, saya sampai keluar dari kamar kami yang ber-AC, dan tidur berselimut di sofa, di udara Jakarta jam 2 pagi yang sebenarnya sama sekali tidak dingin.

Sambil demam itu saya baru merasakan ada yang aneh dengan payudara saya. Sepertinya agak sakit.

Saya coba pijat-pijat, wah tidak mempan.

Baru saya ingat-ingat lagi perjalanan dari sore sampai malam tadi. Yaitu dua kesalahan yang saya lakukan. Melewatkan ritual pemijatan dan menyusui dua kali berturut-turut dengan payudara yang sama.

Penyesalan tinggal penyesalan. Siksaan karena payudara bengkak harus dihadapi. ASI sulit dikeluarkan, badan demam, payudara sakit. Lengkap.

Untung ada milis asiforbaby tempat saya mencari masukan soal ASI. Dari berbagai masukan mengenai payudara bengkak ini, ternyata ini langkah-langkahnya.

- Payudara harus tetap disusukan, sambil dipijar-pijat di daerah yang nyeri.
- Lakukan kompres panas dingin bergantian.
- Intensifkan pemijatan.

Metode tradisional yang bisa dicoba juga adalah kompres dengan menggunakan daun kol atau daun cabe rawit.
Untuk daun kol, gunakan daun kol yang dingin (dari kulkas), ambil secukupnya, kompreskan pada payudara. Jika terasa sudah layu, ganti dengan daun yang baru. Lakukan terus menerus, sampai bengkak terasa lebih lunak.
Untuk daun cabe rawit, gunakan daun cabe rawit segar. Cara penggunaannya sama dengan daun kol.

Saya sendiri, menggunakan minyak habbatussauda, yang selain memudahkan pemijatan, juga memiliki kemampuan anti radang sehingga mempercepat penyembuhan bengkak pada payudara.

Akhirnya, 5 hari berjuang, bengkak pun berangsur-angsur mengempis dan akhirnya hilang.
Salah satu point yang penting adalah, bahwa memang payudara bengkak ini tidak bisa sembuh dengan segera, tetapi berangsur-angsur. Sehingga memang perlu kesabaran, ketabahan, dan tetap semangaaaat :-D

Dan untuk mengeluarkan ASI, yang lebih efektif adalah dengan disusukan langsung. Jika menggunakan pompa atau pemijatan, biasanya lebih sulit. Hisapan bayi adalah obat terbaiknya :-)

Sejak saat itu saya tidak mau lagi melewatkan kegiatan harian wajib untuk pemijatan payudara. Dua kali sehari, setiap hari, sebelum mandi. Minyak habbatussauda saya letakkan di kamar mandi di dekat sabun, supaya tidak terlupa :-)

Dan kedua, jangan sampai lupa pergiliran payudara untuk disusukan. Ada satu masukan dari member asiforbaby yang sangat bagus. Untuk mencegah kita lupa payudara mana yang baru saja disusukan, beri tanda pada branya, misalnya dengan pita, atau peniti kecil.

Selamat tinggal payudara bengkak :-)

Monday, May 24, 2010

Habbatussauda untuk Ibu Menyusui (dan Bayinya)

Untuk ibu menyusui, ada beberapa masalah yang kerap kali muncul, yaitu ASI yang dirasa kurang, stamina yang menurun, luka pada payudara, dan ambeien (wasir).

Sebenarnya, Mungkinkah ASI Kurang?

Berdasarkan penelitian, kasus ASI kurang sebenarnya sangat jarang terjadi. Bahkan pada ibu yang kurang gizi pun, ASI tetap mencukupi. Hanya pada kasus kurang gizi yang sangat parah, barulah ASI tidak cukup.

Jika kita memahami mekanisme pembentukan ASI, maka ASI diproduksi sesuai konsep supply dan demand. Jika ASI semakin banyak dikeluarkan, otak akan mencatat itu sebagai kebutuhan, maka ASI akan makin banyak diproduksi. Maka kunci utama dalam meningkatkan produksi ASI adalah dengan semakin banyak mengeluarkan ASI (memompa atau menyusui).

Namun, berdasarkan pengalaman empiris dari ibu menyusui, ada beberapa makanan dan minuman yang dirasa meningkatkan produksi ASI, yaitu : daun katuk, daun pepaya, buah pepaya muda, jagung manis, kacang merah, kacang hijau, kacang tanah, sari kurma, dan habbatussauda.

Mengapa Stamina Ibu Menyusui Sering Menurun?

Sebetulnya hal yang wajar jika stamina ibu menyusui menurun. Ibu menyusui sering terbangun di malam hari untuk menyusui, mengganti popok, atau sekedar menemani bayi yang tiba-tiba rewel. Di siang hari, ibu menyusui juga harus mengikuti ritme bangun dan tidur bayi. Terlebih lagi, jika ibu benar-benar mengerjakan seluruh pekerjaan rumah sendiri. Padahal, sang ibu masih dalam proses pemulihan pasca persalinan. Mereka yang tidak terbiasa tentunya akan merasakan turunnya stamina secara drastis.

Perawatan Payudara

Untuk ibu menyusui, ada satu tambahan kegiatan rutin yang harus dilakukan paling tidak dua kali dalam sehari, yaitu pemijatan (message) payudara. Hal ini diperlukan agar produksi ASI tetap berjalan lancar, menghindari terjadinya penyumbatan yang dapat mengakibatkan payudara bengkak. Pada tahap yang lebih parah payudara bengkak dapat menjadi infeksi (mastitis), yang disertai demam tinggi, yang bahkan memerlukan tindakan operasi untuk menuntaskannya.

Beberapa Masalah Ibu Menyusui

Masalah yang sering muncul, adalah luka pada puting payudara. Hal ini sering kali terjadi karena kurang tepatnya latch-on atau masuknya puting ke dalam mulut bayi. Namun, jika ibu memiliki bayi yang hisapannya kuat, walaupun latch-on sudah benar, ada kalanya puting tetap lecet, terutama pada bulan-bulan pertama kelahiran.
Selain itu, pasca melahirkan, terutama bagi ibu yang melahirkan normal, sebagian besar ibu mengalami ambeien. Hal ini disebabkan karena perubahan hormon selama hamil atau proses mengejan yang kurang tepat saat melahirkan.

Habbatussauda untuk Ibu Menyusui

Kapsul habbatussauda dan sari kurma, bermanfaat untuk meningkatkan produksi ASI.Kesaksian dari seorang ibu menyusui yang pada saat berpuasa mengkonsumsi habbatussauda, produksi ASI-nya justru lebih banyak daripada ketika tidak berpuasa. Yang harus diperhatikan ketika akan mengkonsumsi habbatussauda, adalah tekanan darah ibu. Pada ibu yang memiliki tekanan darah rendah, habbatussauda ada kalanya kurang cocok.

Sari kurma dikombinasikan dengan madu, sangat efektif dalam meningkatkan stamina ibu menyusui. Sari kurma dan madu dapat diminum setiap sebelum makan.

Minyak habbatussauda dapat digunakan sebagai minyak pelicin pada pijat payudara. Agar rutin, pijat dapat dilakukan setiap sebelum mandi. Simpanlah satu botol minyak habbatussauda di kamar mandi Anda.

Jika payudara dalam kondisi normal, maka manfaat habbatussauda adalah dalam memudahkan pemijatan. Namun jika payudara sedang bengkak karena tersumbatnya saluran ASI, maka selain memudahkan pemijatan untuk membuka saluran ASI, habbatussauda yang memiliki kemampuan anti radang juga akan membantu meredakan bengkak pada payudara.

Minyak habbatussauda juga bermanfaat untuk menyembuhkan luka pada puting. Dengan khasiat anti radang dan penyembuh luka, luka pada puting dapat sembuh dengan lebih cepat. Ibu pun tak perlu khawatir minyak ini tertelan bayi, karena tidak berbahaya bagi bayi.

Bagi ibu yang mengalami ambeien, habbatussauda juga sangat efektif untuk menyembuhkannya. Dengan khasiat anti radang dan penyembuh luka, ambeien akan sembuh secara bertahap. Untuk ambeien, minyak habbatussauda dapat dioleskan langsung pada ambeien, serta diminum untuk pengobatan dari dalam.

Untuk Bayi Apa Manfaatnya?

Dampak tidak langsung tentunya sebagai hasil dari meningkatnya produksi ASI dan dengan masuknya zat-zat yang bermanfaat bagi ibu, akan juga diteruskan pada bayi.

Yang langsung dapat digunakan pada bayi, minyak habbatussauda dapat digunakan untuk menyembuhkan gigitan serangga, bisul, bahkan eksim.

Referensi : Berbagai Sumber tentang ASI dan habbatussauda